Materi IV-e:  Pengolahan Sawit

 

 

1. Pendahuluan

 

Komoditas kelapa sawit yang memiliki berbagai macam kegunaan baik untuk industri pangan maupun non pangan. Prospek pengembangannya tidak saja terkait dengan pertumbuhan permintaan minyak nabati dalam negeri dan dunia, namun terkait juga dengan perkembangan sumber minyak nabati lainnya, seperti kedelai, rape seed dan bunga matahari. Gambaran tentang pangsa produksi dan konsumsi minyak nabati dunia dapat diikuti pada Tabel berikut ini.

 

Tabel  1. Pangsa Produksi dan Konsumsi Minyak Nabati Dunia

 

No.

Uraian

1993-1997

1998-2001

2003-2007

2007-2012

I.

 

1.

2.

3.

4.

5.

Total Produksi (ribu ton)

Pangsa (%)

M. sawit dan m. inti sawit

Minyak kedelai

Minyak rape seed

Minyak kelapa

Minyak lainnya *

70.778

 

24,7

25,1

14,3

4,2

          31,7

83.680

 

27,8

23,8

14,3

3,7

30,4

95.624

 

30,1

23,4

13,1

3,8

29,6

108.512

 

30,8

23,2

14,3

3,8

27,9

II.

 

1.

2.

3.

4.

5.

Total Konsumsi (ribu ton)

Pangsa (%)

Minyak kedelai

Minyak sawit (CPO)

Minyak rape seed

Minyak bunga matahari

Lainnya (15 jenis)

90.501

 

19,7

17,0

11,1

9,2

43,0

104.281

 

19,3

19,2

11,3

9,2

41,0

118.061

 

18,9

21,4

11,5

9,2

39,0

132.234

 

19,0

22,5

11,7

9,1

37,7

*) Minyak kapas, m. kacang tanah, m. bunga matahari, m. sesame, m. jagung, m. olive, m. jarak, dan m. rape seed

Sumber :  Diolah dari Oil World 

 

            Dari Tabel 1 terlihat bahwa mulai periode 1998-2001 produksi minyak nabati dunia lebih kecil dari konsumsi minyak nabati dunia sehingga diperkirakan harga minyak nabati akan meningkat. Jika ditinjau untuk masing-masing komoditas diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan konsumsi  yang cukup tinggi terjadi terutama pada tiga jenis minyak nabati, yaitu minyak kedelai, minyak kelapa sawit dan rape seed. Namun demikian mulai periode 2003-2007 pangsa konsumsi minyak kelapa sawit  mengungguli pangsa konsumsi minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rape seed. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga tahun 2020.

 

Dari segi daya saing, minyak kelapa sawit mempunyai kemampuan daya saing yang cukup  kompetitif dibanding minyak nabati lainnya, karena: ( a) Produktivitas per-hektar cukup tinggi; (b) Merupakan tanaman tahunan yang cukup handal terhadap berbagai perubahan agroklimat; dan  (c) Ditinjau dari aspek gizi, minyak kelapa sawit tidak terbukti sebagai penyebab meningkatnya kadar kolesterol, bahkan mengandung beta karoten sebagai pro-vitamin A.

 

Persaingan dalam perdagangan minyak kelapa sawit (CPO) sebenarnya hanya terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Nigeria sebagai produsen nomor tiga lebih banyak mengalokasikan produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Malaysia yang merupakan produsen dan eksportir terbesar akhir-akhir ini berusaha secara konsisten mengolah minyak sawitnya sehingga volume ekspornya dalam bentuk minyak sawit (CPO) diperkirakan akan mulai tertahan. Keterbatasan lahan yang sesuai serta tingginya upah, juga akan menahan perluasan areal di Malaysia sehingga akan memperlambat laju ekspor. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara produsen dan eksportir terbesar ke dua mempunyai peluang untuk meningkatkan ekspornya. Indonesia dikenal sebagai negara paling efisien dalam memproduksi minyak sawit sehingga CPO Indonesia sangat kompetitif di pasar internasional. Dengan ketersediaan lahannya yang relatif luas, Indonesia berpeluang untuk meningkatkan produksi sehingga memacu pertumbuhan ekspor. Namun demikian, karena tingkat konsumsi dalam negeri masih meningkat pesat, laju peningkatan ekspor tampaknya juga akan terhambat.

 

Selain  sebagai sumber minyak makan, produk turunan kelapa sawit  ternyata masih banyak manfaatnya dan sangat prospektif untuk dapat lebih dikembangkan, antara lain:

  1. Produk turunan CPO. Produk  turunan CPO  selain minyak makan  dapat dihasilkan margarine, shortening, Vanaspati (Vegetable ghee), Ice creams, Bakery Fats,  Instans Noodle, Sabun dan Detergent, Cocoa Butter Extender, Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap Mixes, Sugar Confectionary, Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles Oils dan Bio Diesel. Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan di beberapa negara Eropa dan Jepang  untuk menggunakan renewable energy.
  2. Produk Turunan Minyak Inti Sawit. Dari produk  turunan  minyak inti sawit dapat dihasilkan Shortening, Cocoa Butter Substitute, Specialty Fats, Ice Cream, Coffee Whitener/Cream, Sugar Confectionary, Biscuit Cream Fats, Filled Mild, Imitation Cream, Sabun dan Detergent, Shampoo dan Kosmetik.
  3. Produk Turunan Oleochemicals kelapa sawit. Dari produk  turunan  minyak kelapa sawit dalam bentuk oleochemical dapat dihasilkan  Methyl Esters, Plastic, Textile Processing, Metal Processing, Lubricants, Emulsifiers, Detergent, Glicerine, Cosmetic, Explosives, Pharmaceutical Products dan Food Protective Coatings.

Dari gambaran tersebut dapat  disampaikan bahwa prospek kelapa sawit masih sangat luas, tidak saja untuk pemenuhan kebutuhan minyak makan, tetapi juga untuk kebutuhan produk-produk turunannya. Untuk lebih meningkatkan daya saing produk kelapa sawit dan turunannya agar lebih mempunyai daya saing, keterpaduan penanganan sejak dari kegiatan perencanaan, kegiatan on-farm, off-farm, dukungan sarana dan prasaran  serta jasa-jasa penunjangnya sangat diperlukan.

 

Courtesy PTPN VIII, Jawa Barat  

 

 

Kembali ke Kelompok Materi 4
Komoditas Selanjutnya
Presentasi PowerPoint