Materi IV-i: Pengolahan Lada

 

 

1. Pendahuluan

 

Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai produsen utama lada dunia yang diusahakan secara tradisional. Kontribusi lada Indonesia terhadap produksi lada dunia pada tahun 2000 sekitar 30,49%. Ini merupakan kontribusi yang tertinggi dibandingkan produksi dari 8 negara produsen lainnya di dunia. Demikian pula halnya untuk ekspor, kontribusi ekspor lada Indonesia terhadap dunia pada tahun 2000 sekitar 36,96% yang merupakan pangsa ekspor terbesar dibandingkan negara produsen lainnya

 

Perkembangan harga lada di Pasar Dunia cenderung berfluktuatif. Untuk lada hitam, pada tahhun 1991 mencapai harga 243,16 Sin $/100 kg dan tahun 1998 meningkat menjadi 1.183 Sin $/100 kg. Sedangkan untuk lada putih, pada tahun 1991 mencapai harga 236,78 Sin $/100 kg meningkat menjadi 863,70 Sin $/100 kg pada tahun 1998.  

 

Perkembangan harga lada tersebut erat pula kaitannya dengan sifat produk lada itu sendiri, dengan kata lain terdapat kecenderungan kenaikan harga lada tidak dapat diikuti oleh kenaikan produksi. Sampai saat ini masih belum ditemui adanya produk/bahan substitusi, dan hasilnya dapat disimpan. Hal ini tentunya merupakan peluang yang  sangat  baik bagi negara-negara produsen yang mempunyai potensi perluasan areal. Oleh karenanya dapatlah dikatakan bahwa masa depan perladaan dunia cukup cerah.  

 

Bagi Indonesia, prospek pengembangan lada masih cukup besar peluangnya mengingat beberapa hal antara lain :

  1. Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai produsen utama lada dunia yang diusahakan secara tradisional. Kontribusi lada Indonesia terhadap kebutuhan lada dunia berkisar antara 23 36%.
  2. Daya saing komoditas lada Indonesia cukup tinggi.
  3. Potensi pasar tradisional (dalam negeri) cukup besar yaitu dengan semakin berkembangnya usaha makanan yang menggunakan bumbu dari lada serta minat masyarakat mulai berubah menyukai lada sebagai rempah untuk penyedap masakan.
  4. Konsumsi dunia cenderung meningkat sejalan dengan isu food savety terhadap bahan syntetis lain dan tuntutan akan keamanan lada sebagai bahan rempah untuk pangan semakin menonjol terutama di negara-negara maju.
  5. Areal yang potensial untuk pengembangan lada tersedia cukup luas.
  6. Diversifikasi produk melalui pengembangan produk hilir, seperti: tepung lada, minyak lada dan lada segar dalam kalengan.
  7. Lada Indonesia memiliki keunggulan dalam hal spesifik rasa yang tidak dimiliki oleh negara lain.
  8. Pengembangan lada menyerap tenaga kerja cukup besar, dimana untuk mengembangkan tanaman secara intensif satu KK petani hanya mampu  untuk 750 pohon atau 0,5 ha.
  9. Pengembangan lada dapat dilakukan pada wilayah-wilayah terpencil, sehingga berperan sebagai pemerataan pembangunan wilayah.
  10. Pengembangan tanaman lada mempunyai potensi untuk dikembangkan bersama-sama dengan tanaman keras lain atau dengan tanaman keras untuk penghijauan. Mengikutsertakan lada dalam usaha penghijauan tersebut akan lebih mempunyai arti penting dalam rangka perbaikan ekonomi petani yang berada di daerah kritis, oleh karena masalah utama daerah tersebut tidak hanya kritis dari segi fisik tetapi juga kritis dari segi ekonomi.

 

Kembali ke Kelompok Materi 4
Komoditas Selanjutnya
Presentasi PowerPoint