Materi IV-f: Pengolahan Kelapa

 

 

1. Pendahuluan

 

Kebutuhan kelapa setiap tahunnya meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Apabila pada tahun 1992 konsumsi kelapa setara kopra didalam negeri setara kopra di dalam negeri sebesar 1,782 juta ton maka pada tahun 1996 konsumsi naik sekitar 7,36 persen atau menjadi 1,913 juta ton. Diperkirakan kebutuhan ini akan terus meningkat pada masa yang akan datang mengingat pola hidup masyarakat pada masa yang akan datang tidak dapat dilepaskan dari kelapa dan hasil olahannya.  

 

Komoditas kelapa merupakan bahan baku untuk menghasilkan berbagai macam produk penting, seperti minyak kelapa, tepung kelapa, karbon aktif, gula kelapa, dan lain-lain. Pabrik pengolahan kelapa tersebut banyak yang beroperasi di bawah kapasitas, bahkan ada yang terancam gulung tikar yang dikarenakan tidak kontinyunya pasokan bahan baku dan harga yang cenderung berfluktuatif.  

 

Menurut perkiraan bahwa jumlah penduduk dunia pada tahun 2010 adalah sekitar 6,4 milyar dan tentunya kebutuhan kelapa dan bahan olahanya juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari  konsumsi dunia terhadap minyak kelapa, bungkil dan tepung kelapa dalam kurun waktu 5 tahun (1992 1996) yang mengalami peningkatan. Konsumsi minyak kelapa naik 1,31 persen dari 2,9 juta ton pada tahun 1992 menjadi 3,9 juta ton pada tahun 1996, bungkil naik dari 1,71 juta ton menjadi 1,8 juta ton (2,14%) dan tepung kelapa dari 166,5 ribu ton menjadi 172,7 ribu ton (1,22%);  

 

Selama ini produk olahan kelapa yang dihasilkan masih terbatas baik dalam jumlah maupun jenisnya. Padahal seperti diketahui sebagai the tree of life banyak sekali yang dapat dimanfaatkan dari setiap bagian pohon kelapa. Produk-produk yang dapat dihasilkan dan banyak diminati dengan nilai ekonomi tinggi diantaranya adalah arang aktif, serat sabut, tepung kelapa, krim, serta oleokimia yang dapat menghasilkan asam lemak, metil ester, fatty alcohol, fatty amine, fatty nitrogen, glycerol, dan lain-lainnya. Demikian pula batang pohon kelapa merupakan bahan baku industri rumah tangga untuk menghasilkan perlengkapan rumah tangga (furniture) yang memiliki prospek untuk dikembangkan.  

 

Tantangan dalam usaha agribisnis perkelapaan mencakup beberapa hal yang berkaitan dengan aspek teknis, ekonomis, ekologis, dan politik antara lain adalah: (a) Pesatnya penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku minyak goreng di dalam negeri dan semakin menggeser posisi minyak kelapa, sehingga perlu upaya penganekaragaman produk kelapa dan ikutannya yang berorientasi pasar global; (b) Areal tanaman tua yang belum direhabilitasi/diremajakan cukup luas sehingga mempengaruhi/mereduksi tingkat produktivitas per hektar, dan disamping itu bibit unggul kelapa (local) belum berkembang penggunaannya sehingga mewarnai mutu tanaman yang ada pada saat ini; (c) Semakin tingginya tuntutan konsumen (terutama di negara maju) untuk produk-produk pertanian, termasuk produk kelapa, terutama dari aspek kesehatan, yang diimplementasikan dengan penetapan standar internasional (ISO); (d) Dalam era otonomi daerah, prakarsa dan tanggung jawab pelaksanaan pembangunan, termasuk pembangunan agribisnis perkelapaan di Indonesia merupakan tugas pemerintah daerah, sedangkan pemerintah pusat perannya hanya sebagai fasilitator, stimulator dan regulator. Kegiatan pembangunan ekonomi itu sendiri dilakukan oleh masyarakat, dalam kaitan ini, peran pelaku usaha dan pemerintah daerah menjadi semakin penting dan sangat menentukan.  

 

Peluang dalam usaha agribisnis perkelapaan mencakup beberapa hal yang berkaitan dengan aspek teknis, ekonomis, ekologis, dan politik antara lain adalah: (a) Adanya pangsa pasar dunia yang relatif mapan untuk produk minyak kelapa dan kecenderungan harga minyak kelapa lebih stabil dibandingkan dengan CPO. (b) Potensi untuk pengembangan produk (product development) cukup luas dan terbuka, sehingga akan memperluas segmen pasar. (c) Lahan diantara pertanaman kelapa berpotensi untuk diversifikasi usaha, sehingga pengembangan cabang usahatani lainnya dalam areal yang sama akan dapat meningkatkan produktivitas usahatani. (d) Tersedianya teknologi tepat guna, baik pada subsistem hulu, on-farm, dan hilir (benih/bibit unggul local, system usahatani yang lebih efisien, pengolahan kelapa terpadu, dll), yang dapat mendukung usaha diversifikasi produk, sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan olah (zero waste), dan membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan nilai tambah. (e) Adanya dukungan industri rumah tangga, kecil dan menengah yang membutuhkan bahan baku kelapa termasuk bahan ikutannya, (f) Tersedia areal pengembangan seluas 15,2 juta ha (baik lahan kering maupun lahan basah). (g) Produk kelapa dan hasil sampingnya bersifat biodegradable (bersahabat dengan lingkungan). Dari 114 perusahaan pengolah produk kelapa/minyak kelapa dengan kapasitas total 2,4 juta ton beroperasi di bawah kapasitas yaitu 800 ribu ton. (f) Masih tersedianya areal pengembangan terutama di daerah pasang surut.



Kembali ke Kelompok Materi 4  

Komoditas Selanjutnya

Presentasi PowerPoint