Dr.Ir. Rokhani Hasbullah, M.Si.

Departement of Agricultural Engineering, Faculty of Agricultural Technology, IPB

Gambar 1. Hotel dan restoran dengan pemandangan sungai Chao Phraya.

Transportasi Sungai - Potensi yang terabaikan

Oleh: Dr.Ir. Rokhani Hasbullah, M.Si.

Potensi Sungai vs Krisis Energi

Menghadapi krisis energi, potensi sungai perlu mendapatkan perhatian baik sebagai sarana transportasi, sumber energi alternatif, kelestarian lingkungan maupun manfaat lainnya.  Sebagai jalur transportasi, peran sungai-sungai di Indonesia nampaknya mulai ditinggalkan dan bergeser ke transportasi moda darat karena adanya anggapan bahwa jalur darat lebih cepat dibandingkan dengan transportasi sungai. Apalagi, pemerintah lebih memprioritaskan peningkatan sarana dan prasarana jalur darat sehingga wilayah-wilayah di jalur sungai agak tertinggal perkembangannya.  Padahal, penggunaan jalur trans-Kalimantan dan trans-Sumatera sebagai jalur angkutan industri kelapa sawit, kayu untuk industri pulp dan pertambangan batu bara dengan beban berlebih cenderung mempercepat kerusakan jalan sehingga mengganggu kelancaran perdagangan antar daerah dan menghambat pertumbuhan ekonomi. 

Semestinya kita belajar dari Thailand yang cukup piawai dalam memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi.  Di Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera terdapat banyak sungai seperti sungai Barito, Kapuas, Kuin, Martapura dan Melawi di Kalimantan, serta sungai Kampar, Siak dan Musi di Sumatera.  Sungai-sungai tersebut cukup potensial sebagai sarana transportasi, namun belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.

 

Moda Transportasi

Pemilihan moda transportasi selayaknya menjadi pertimbangan utama agar biaya transportasi menjadi ekonomis sehingga dapat meningkatkan dayasaing produk.  Tabel 1 menyajikan beberapa pilihan moda transportasi berdasarkan volume produk yang ditangani.  Transportasi volume besar umumnya menggunakan truk, kereta api dan tongkang (barge).  Sedangkan transportasi volume sedang umumnya menggunakan truk dan pada kondisi tertentu digunakan juga kereta api.  Sementara untuk volume kecil sepenuhnya menggunakan truk.  Tabel 2 memperlihatkan perbandingan volume pada berbagai moda transportasi yang umum digunakan (Sonka et al., 2000). Sebagai negara agraris yang berbentuk kepulauan, idealnya Indonesia memiliki suatu terminal agribisnis yang melayani moda transportasi darat dan air dengan alat transportasi kereta api, kapal laut atau tongkang dan truk secara terpadu.

 

Tabel 1.  Pemilihan moda transportasi berdasarkan volume produk yang ditangani.

Konfigurasi

Alternatif Moda Transportasi

Kontainer

Truk

Kereta api

Tongkang

Volume besar

Volume sedang

Volume kecil

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Sebagian

Kontainer

Ya

Terbatas

Tidak

Sumber: Sonka et al., 2000.

 

Tabel 2.  Perbandingan kapasitas angkut pada berbagai moda transportasi.

Unit Kapasitas

Truk

Kontainer

Kereta 50 grb

Kapal tongkang

Vessel cepat

Vessel besar

Truk

1,0

 

 

 

 

 

Kontainer

4,0

1,0

 

 

 

 

Kereta 50 grb

198,4

50,0

1,0

 

 

 

Kapal tongkang

59,5

15,0

0,3

1,0

 

 

Kapal vessel cepat

1.312,3

330,7

6,6

22,0

1,0

 

Kapal vessel besar

2.187,2

551,2

11,0

36,7

1,7

1,0

 Sumber: Sonka et al., 2000.

Transporasi Sungai di Thailand

Thailand nampaknya cukup piawai dalam memanfaatkan sungai, tidak hanya sebagai sarana distribusi/transportasi, tetapi juga sebagai obyek wisata yang menarik.  Masyarakat Thailand menempatkan sungai di ”depan” bukan di ”belakang”. Sungai sebagai best view yang indah dan bersahabat dimana banyak hotel dan restoran menggunakannya sebagai back yard untuk menikmati keindahan alamnya (Gambar 1).

Thailand merupakan negara agraris yang mengaplikasikan kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi terutama dalam proses produksi dan distribusi.  Sistem transportasi sungai menggunakan kapal tongkang menjadi pilihan utama untuk menekan biaya transportasi (Gambar 2).  Kebanyakan industri di Thailand dibangun di pinggir sungai Chao Phraya (sepanjang 370 km) untuk memudahkan dan menekan biaya transportasi.  Setiap hari lalu-lalang sejumlah kapal tongkang mengangkut barang-barang perdagangan seperti minyak, minuman, beton, barang tambang, maupun produk pertanian lainnya, mengindikasikan pentingnya peranan sungai sebagai sarana transportasi perekonomian modern.  Kapal-kapal tongkang dengan kapasitas muat antara 400 ton hingga 600 ton tersebut ditarik menggunakan kapal ikan ataupun tag boat.  Dengan adanya krisis energi, kini kebanyakan industri mulai meninggalkan penggunaan truk/trailer sebagai alat transportasi dan beralih ke transportasi sungai menggunakan kapal tongkang. 

Industri penggilingan padi modern di Thailand juga menggunakan transportasi sungai untuk mengangkut beras menuju pelabuhan laut dalam (deep sea port) di pulau Sichan untuk keperluan ekspor. Kapasitas tongkang mencapai 600 ton atau setara dengan konvoi 60 truk dengan jarak tempuh sekitar 150 km.   Beras dalam bentuk kemasan karung 50 kg dipindahkan dari pabrik menuju kapal tongkang dengan menggunakan ban berjalan (belt conveyor) seperti diperlihatkan pada Gambar 3.

 

Penutup

Indonesia sebagai negara kepulauan seyogyanya memiliki infrastruktur sistem transportasi yang memadukan transportasi moda darat dan air secara terintegrasi untuk membantu meningkatkan kemudahan akses, menekan biaya operasional dan mempertahankan mutu produk.  Sistem transportasi sungai sebagai salah satu layanan angkutan yang aman, murah dan ramah lingkungan nampaknya perlu dikembangkan dalam menghadapi krisis energi dan untuk meningkatkan dayasaing produk pertanian.  Transportasi industri yang mengangkut hasil-hasil pertanian seperti karet, kayu, minyak sawit mentah (CPO) maupun produk pertambangan seperti batubara dan lain-lain seyogyanya diarahkan menggunakan transportasi sungai, sehingga tidak mengganggu kelancaran lalu lintas orang dan barang perdagangan antar daerah yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. 

Permasalahannya, kondisi lingkungan di daerah aliran sungai (DAS) cukup memprihatinkan dimana terjadi penggundulan hutan terutama di daerah hulu, menyebabkan sungai pada musim kemarau mengalami pendangkalan atau bahkan kering sementara pada musim hujan airnya meluap hingga menjadi bencana.  Dengan menempatkan sungai di ”depan” dan memanfaatkannya semaksimal mungkin, diharapkan dapat membangun kesadaran semua pihak untuk menjaga dan memeliharanya, baik kebersihannya (sampah dan buangan limbah industri) maupun kestabilan debit alirannya (mencakup luasan DAS dan vegetasi di daerah hulu).

 

Daftar Pustaka

Economic & Engineering Study.  1972. Rice Storage, Handling and Marketing - The Republic of Indonesia. Weitz-Hettelsater Engineers.  Missouri, USA.

Seidler, E. 2001. Wholesale Market Development – FAO’s Experience. Paper prepared for the 22nd Congress of the World Union of Wholesale Markets. Durban, South Africa.

Sonka, S., R.C. Schroeder and C. Cunningham.  2000. Transportation, Handling, and Logistical Implications of Bioengineered Grains and Oilseeds: A Prospective Analysis.  USDA Agricultural Marketing.  USA.

 

 

 

IMG_3925

Gambar 2. Transportasi sungai menggunakan kapal tongkang di sungai Chao Phraya propinsi Ang Thong Thailand.

Gambar 3. Pemindahan beras dari pabrik ke kapal tongkang menggunakan ban berjalan (conveyor).