Depan   Pusat Peneltian    Jurnal    Berita LPPM    Produk Unggulan    Download    Kontak
Penelitian & Pengabdian

Jumlah Penelitian

Riset Unggulan IPB(RUI)

Produk Unggulan


Database Penelitian

Data Peneliti dan Penelitian per Fakultas


Halaman Utama

Abstrak Penelitian


VALIDASI METODE HDDS (HOUSEHOLD DIETARY DIVERSITY SCORE) PADA RUMAH TANGGA PENERIMA PROGRAM DIVERSIFIKASI PANGAN DI KABUPATEN BOGOR

Abstrak

Salah satu metode yang digunakan dalam menilai keragaman konsumsi pangan rumah tangga adalah Household Dietary Diversity Score (HDDS). HDDS mencerminkan kemampuan ekonomi rumah tangga dalam memperoleh berbagai jenis bahan pangan (Kennedy et al. 2013). Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah uji coba metode HDDS sebagai indikator alternatif untuk mengidentifikasi rumah tangga rawan pangan dan sebagai indikator kualitas konsumsi pangan rumah tangga dalam rangka mengevaluasi keberhasilan program diversifikasi pangan (P2KP). Tujuan khusus dari penelitian ini adalah (1) mengkaji aplikasi Household Dietary Diversity Score (HDDS) dalam penilaian keragaman konsumsi pangan rumah tangga dengan status ekonomi rendah dan agroekologi yang berbeda; (2) mengkaji nilai spesivisitas dan sensitivitas metode HDDS untuk menguji keragaman konsumsi pangan rumah tangga dan identifikasi rumah tangga rawan pangan; (3) menganalisis hubungan keragaman konsumsi pangan rumah tangga dengan status gizi balita; (4) Modifikasi HDDS sehingga dapat digunakan dalam mengidentifikasi rumah tangga rawan pangan; (5) mengkaji aplikasi Household Dietary Diversity Score (HDDS) modifikasi dalam penilaian kualitas konsumsi pangan rumah tangga penerima program P2KP; (6) mengkaji nilai spesivisitas dan sensitivitas metode HDDS modifikasi untuk menguji kualitas konsumsi pangan rumah tangga penerima program P2KP; dan (7) menganalisis kemampuan skor HDDS modifikasi sebagai indikator keberhasilan program P2KP Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bogor, pada tahun pertama di empat kecamatan dengan karakteristik agroekologi yang berbeda yaitu daerah pertanian padi (Gunung Putri), pertanian sayur dan hortikultura (Cibinong), industri (Cigudeg), dan daerah kumuh (Ciawi). Berbeda dengan tahun kedua dilakukan pada dua desa penerima program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yaitu desa Babakan, Kecamatan Dramaga dan desa Citayam, Kecamatan Tajurhalang. Pada tahun pertama, hasil analisis data menunjukkan skor HDDS yang tinggi (skor 6-12) di seluruh lokasi penelitian, yang berarti konsumsi pangan rumah tangga cukup beragam. Secara kuantitas, asupan energi dan protein rumah tangga masih rendah meskipun skor HDDS menunjukkan konsumsi yang sudah beragam. Hal ini diduga karena pemberian skor HDDS tidak memperhitungkan kontribusi zat gizi sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai sumber energi, pembangun dan pengatur. Sehingga skor yang diperoleh meskipun tinggi, dapat saja berasal dari kelompok pangan dengan fungsi yang sama. Terdapat 61.3% dari total rumah tangga contoh tergolong kelompok defisit energi tingkat berat (< 70%) yaitu rata-rata konsumsi energi rumah tangga 5286. 22 kkal dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang. Jika dilihat dari Tingkat Kecukupan Protein (TKP), sebanyak 57.2% rumah tangga contoh tergolong defisit berat. Hasil uji sensitivitas dan spesifisitas menunjukkan HDDS hanya sensitif 26.95% menilai keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga yang memiliki tingkat kecukupan energi yang rendah dan hanya spesifik 85.16% untuk menilai keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga yang memiliki tingkat kecukupan energi yang tinggi. Sehingga, perlu dilakukan modifikasi metode HDDS untuk meningkatkan nilai Se dan Sp. Hubungan keragaman konsumsi pangan dengan status gizi berbanding lurus. Jika dilihat korelasi antara skor keragaman dan status gizi balita, keduanya berbanding lurus, yang artinya bahwa semakin meningkat skor keragaman, maka status gizi balita juga lebih baik. Metode HDDS tidak valid dalam mengidentifikasi rumah tangga rawan pangan karena pemberian skor tidak melihat fungsi zat gizi, sehingga HDDS tidak sensitif untuk menilai keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga yang memiliki tingkat kecukupan energi yang rendah. Oleh karena itu pada tahun kedua, dilakukan modifikasi pada penentuan skor HDDS dengan memperhatikan fungsi zat gizi dari masing-masing kelompok pangan. Hasil analisis data pada tahun kedua menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di total wilayah penelitian (80.8%) memiliki skor HDDS yang tinggi (>9 jenis pangan), yang berarti konsumsi pangan rumah tangga cukup beragam. Jika dilihat per kelompok rumah tangga berdasarkan kategori wilayah, kelompok penerima P2KP Desa Citayam memiliki keragaman konsumsi pangan tertinggi, yaitu sebanyak 86.7% rumah tangga penerima program mengonsumsi lebih dari sembilan jenis pangan. Analisis terhadap skor PPH juga dilakukan agar dapat membandingkan kualitas konsumsi pangan rumah tangga berdasarkan HDDS maupun PPH dan diketahui rata-rata skor PPH pada total wilayah adalah 55.0. Skor tersebut masih berada di bawah skor minimal PPH (<90). Secara kuantitas, asupan energi dan protein rumah tangga masih rendah meskipun skor HDDS menunjukkan konsumsi yang sudah beragam. Terdapat 42.5% dari total rumah tangga contoh tergolong kelompok defisit energi tingkat berat (< 70%) yaitu rata-rata konsumsi energi rumah tangga 1657 kkal dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang. Jika dilihat dari Tingkat Kecukupan Protein (TKP), sebanyak 35.0% rumah tangga contoh tergolong defisit berat. Hasil uji sensitivitas dan spesifisitas menunjukkan HDDS pada total wilayah penelitian tahun kedua hanya sensitif 18.8% menilai keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga yang memiliki tingkat kecukupan energi yang rendah dan hanya spesifik 66.67% untuk menilai keragaman konsumsi pangan pada rumah tangga yang memiliki tingkat kecukupan energi yang tinggi. Setelah dilakukan uji t (uji beda) untuk penilaian keragaman konsumsi pangan antara HDDS dan PPH, terdapat perbedaan (p<0.05) antara keduanya. Hal ini menguatkan bahwa HDDS tidak sejalan dengan PPH dalam menilai keragaman konsumsi pangn rumah tangga. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab perbedaan tersebut adalah dalam menghitung skor PPH tidak memperhitungkan konsumsi pangan luar rumah tangga yang dapat menyebabkan skor PPH menjadi rendah. Konsumsi pangan luar rumah tangga tidak dimasukan ke dalam perhitungan skor PPH karena penelitian ini mengikuti alur konsep HDDS yaitu hanya menghitung makanan yang dimasak dan dikonsumsi di dalam rumah. Selain itu diduga pula bahwa umur program yang masih seumur jagung yaitu satu tahun mempengaruhi hal tersebut. Meskipun program P2KP telah dicanangkan dari tahun 2011, namun pada kenyataannya pada Desa Citayam maupun Desa Babakan baru menjalankan program sejak tahun 2013 hingga sekarang. Selain itu, uji beda yang dilakukan untuk skor HDDS dan skor PPH antara rumah tangga penerima dan non penerima menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara keduanya (p>0.05). Hal ini juga diduga karena usia program yang masih terlalu dini.

Keywords

Metode HDDS, rumah tangga, diversifikasi pangan

Lokasi Penelitian

Bogor

Bidang Ilmu

Pangan

Tahun Penulisan

2014

Pelaksana Penelitian

Gizi Masyarakat - FEMA

Sumberdana

Jenis Penelitian

DUB

No. Panggil

DUB/025.14/BAL/v

Peneliti Utama

Yayuk Farida Baliwati

Anggota

Dodik Briawan

(c) copyright LPPM-IPB Darmaga - Bogor - Jawa Barat - Indonesia 2009