Seasonale

Assosiasi dan Interaksi PDF Cetak E-mail
Thursday, 06 December 2007

ASOSIASI DAN INTERAKSI DI EKOSISTEM PADANG LAMUN

 

1. Asosiasi

Asosiasi lamun campuran adalah asosiasi dengan lebih dari 3 spesies lamun. Padang campuran dilaporkan melimpah pada daerah berpasir yang terlindung (tidak berlumpur), stabil dan sedimen yang hampir horisontal (landai) (Hutomo et al. 1988). Bagaimanapun, pada daerah yang terlindung, bioturbasi tinggi maka aktifitas meliang oleh udang-udangan dan makroinvertebrata lain cenderung berkurang dengan keragaman dan kerapatan lamun, serta kesukaan spesies pionir seperti Halophila ovalis dan Halodule uninervis (Hutomo et al. 1988). Secara umum, asosiasi-asosiasi lamun campuran tidak ditemukan pada : 1) Daerah terlindung “ekstrim” berenergi rendah dimana sedimen didominasi oleh pasir berbutir halus sampai lumpur halus (contohnya pada Pulau Komodo) ; 2) Daerah sedimen yang baru mengendap (contohnya pada Atol Taka Bone Rate) ; 3) Daerah sedimen dengan kemiringan curam (contohya pada Pulau Sumbawa) ; dan 4) Daerah intertidal atas yang terpapar subaerial selama pasang rendah mengakibatkan beberapa dessication (Nienhuis et al. 1989).

Asosiasi lamun yang paling beragam ditamukan pada habitat terumbu karang di zona sublitoral atas.  Sebagai contoh, Nienhuis et al. (1989) mendeskripsikan asosiasi delapan spesies dari berbagai habitat terumbu karang di Laut Flores (Pulau Selayar, Atol Taka Bone Rate, Pulau Komodo dan Sumbawa) (Gambar 18.31). Penurunan yang berhubungan dengan frekuensi dan kemunculan dari asosiasi kedelapan spesies meliputi Thalassia hemprichii (terdapat 96% dari sampel), Syringodium isoetifolium (83%), Cymodocea rotundata (83%), Enhalus acoroides (65%), Halodule uninervis (65%), Cymodocea serrulata (61%), Halophila ovalis (35%) dan Halodule pinifolia (9%) (Nienhuis et al. 1989).  Pada banyak habitat, tiap spesies dapat terdapat sangat melimpah dan mendominasi komunitas.  Asosiasi ditemukan pada daerah yang memiliki kestabilan tinggi, yang paling sedikit mengalami penurunan atau pasir yang hampir horisontal (landai) dan pecahan karang yang menutupi terumbu karang (Gambar 18.32) (Nienhuis et al. 1989). Dibawah permukaan substrat biomasa sangat tinggi dan jaringan akar/rhizoma yang banyak memperkuat sedimen rataan terumbu.

Pada penelitian multidisiplin terbaru pada pesisir selatan Lombok, Kiswara dan Winardi (1994) mencatat 11 spesies lamun dari dua lokasi (yaitu Kuta dan Teluk Gerupuk). Dengan 11 spesies, Lombok memiliki keragaman paling tinggi dari pulau-pulau lain dalam kepulauan tersebut. Sebagai catatan bahwa pulau tersebut adala satu dari sedikit pulau yang harus dipelajari secara intensif. Keragaman tertinggi yang diamati lebih banyak pada situs daerah terlindung di Teluk Gerupuk, yang terlindung dari gelombang setelah badai Barat Daya dan gelombang setelah badai Tenggara.  Kondisi dengan energi yang lebih besar di Teluk Kuta direfleksikan dengan persen penutupan Enhalus acoroides yang lebih kecil (35%) daripada pada daerah terlindung Teluk Gerupuk (50%). Bagimanapun, keragaman lebih rendah di Teluk Kuta dapat pula sebagai hasil dari asosiasi kekeruhan air yang lebih tinggi dengan land runoff dari sungai besar (Kiswara dan Winardi 1994). Koleksi Halophila spinosa di Teluk Gerupuk dan Thalassodendron ciliatum di Teluk Kuta dan Teluk Gerupuk baru dicatat untuk spesies ini di wilayah tersebut.  Catatan, bagaimanapun kedua spesies tersebut telah diamati sepanjang pesisir Bali (T. Tomascik, pers. obs.).  Di kedua teluk lamun muncul pada padang monospesifik, pada 2-3 asosiasi spesies sebagaimana asosiasi campuran sampai enam spesies (Gambar 18.34).

2. Flora dan Fauna

2.1 Makropifit Bentik.

Lamun berasosiasi dengan berbagai varietas makroalga. Sebagai contoh Kiswara (1991a) melaporkan bahwa Gracillaria lichenoides yang bernilai ekonomis penting merupakan salah satu makropifit yang dominan pada padang lamun dekat Lontar, Jawa Barat. Atmadja (1992) melaporkan bahwa nelayan di Benoa, Bali dan sepanjang pesisir Lombok Barat mengumpulkan tujuh spesies rumput laut (yaitu Eucheuma arnoldi, E. spinosum, Gelidiella acerosa, Gelidiopsis intricata, Gracillaria eucheumoides, G. lichenoides dan Hypnea cervicornis) dari padang lamun campuran yang terdiri dari Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Thalassia hemprichii dan Thalassodendron ciliatum. Di banyak wilayah (contohnya Salabanka) Caulerpa spp. yang bernilai ekonomis, melimpah sebagai komponen dari komunitas lamun, tetapi belum dimanfaatkan. Di Filipina asosiasi lamun dengan makropifit merupakan sumberdaya ekonomis penting, dipanen untuk produksi agar (contohnya Gracillaria dan Gelidiella), pakan ternak, pupuk dan alginate (contohnya Sargassum spp.) (Fortes 1990a). Di Salabanka, Sulawesi Tengah, pertanian rumput laut di daerah laguna didominasi oleh komunitas lamun campuran menjadi aktifitas ekonomis penting.  

Pada studi komunitas lamun jangka panjang yang dilakukan di Kepulauan Spermonde, Verheij dan Erftemeijer (1993) mencatat 117 spesies makroalga yang berasosiasi dengan Padang Lamun di lima habitat berbeda.  Komunitas makroalga meliputi 50 spesies Chlorophyta, 17 spesies Phaeophyta dan 50 spesies Rhodophyta (Verheij dan Erftemeijer 1993).  Bagaimanapun hanya 13 spesies yang ditemukan berasosiasi secara ekslusif dengan lamun, bernama Avrainvillea stellata, Caulerpa buginense, C. racemosa ecad corynephora, Chaetomorpha crassa, Dictyota ciliolata, D. linearis, Hydroclathrus tenuis, Actinotrichia fragilis, Gracillaria salicornia, Trichogloea requierii, Fosliella sp. Mastophora rosea dan Neogoniolithon brassica-floridum ecad futescens (Verheij dan Erftemeijer 1993).  Sisa 104 spesies lainnya terdistribusi secara luas di seluruh Kepulauan Spermonde dimana mereka tinggal berbagai habitat terumbu dan non-terumbu (Verheij dan Prud’homme van Reine 1993).  Komposisi spesies makroalga yang berasosiasi dengan padang lamun bergantung pada sejumlah besar tipe substrat dan tingkatan terekpos.  Disepanjang pantai intertidal rataan lumpur terigenous sering didominasi oleh Enhalus acoroides dan Halodule pinifolia, makroalga yang paling dominan adalah Caulerpa racemosa, Udotea flabellum, Ulva reticulata, Gracillaria salicornia dan G. verrucosa (Verheij dan Erftemeijer 1993). Pada wilayah dimana komponen utama sedimen terigenous adalah pasir berukuran sedang sampai pasir kuarsa dan mendukung asosiasi lamun campuran, makropifit yang dominan adalah Halimeda opuntia forma upontia, Dictyota linearis dan Amphiroa fragilissima (Verheij dan Erftemeijer 1993). Pasir karbonat yang terdapat di laut lepas menggantikan sedimen terigenous dan komunitas lamun campuran mendominasi.  Pada lingkungan ini makroalga yang mendominasi termasuk Avrainvillea obscura, Enteromorpha clathrata, Hydroclathrus clathratusi dan Hydrolithon reinboldii (Verheij dan Erftemeijer 1993). Pola umum yang muncul dari studi adalah bahwa makroalga yang berasosiasi dengan padang lamun memiliki keragaman terbesar pada rataan terumbu karang pada patch reef dan coastal reef (Verheij dan Erftemeijer 1993).

2.2. Epifit Lamun.

Istilah epifit lamun mengacu bagi seluruh organisme autotrofik (yaitu, produsen primer) yang tinggal menetap di bawah permukaan (air) menempel pada rhizoma, batang dan daun lamun. Bagaimanapun istilah ini sering digunakan mengacu pada semua organisme (hewan atau tumbuhan) yang berkembang di lamun (Russel 1990).  Kita lebih memilih istilah epifauna bagi semua organisme heterotrofik yang menempel pada bagian lamun di bawah sedimen, sementara infauna disebut bagi organisme yang hidup pada sedimen diantara rhizoma/jaringan akar lamun. Daun lamun sering terdapat kelimpahan epifit yang paling melimpah, karena lamun memiliki substrat stabil dengan akses cahaya, nutrien dan pertukaran air. Tidak seperti rumput laut lainnya (contohnya Phaeophyta), lamun tidak memiliki pertahanan kimia yang kuat (contohnya campuran phenolic) yang meyebabkan mrereka dapat dimanfaatkan sebagai substrat hidup bagi berbagai organisme menetap dan bergerak.

Berdasarkan pada morfologi umum dari lamun, Borowitzka dan Lethbridge (1989) menjelaskan lima kelompok spesies yang menyediakan lingkungan berbeda bagi epifit dan epifauna :   

  1. Spesies dengan panjang (5-200 cm) lebar (2-18 mm) daun berbentuk tali sering membentuk kanopi atas : contohnya Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Thalassia hemprichii.
  2. Spesies dengan panjang  (10-75 cm) begian atas batang berkayu (mengandung lignin), dengan daun yang terpasang secara distichous membentuk kanopi rapat pada padang lamun monospesifik : contohnya Thalassodendron ciliatum
  3. Spesies dengan panjang (10-35 cm) daun subulate:contohnya Syringodium isoetifolium.
  4. Spesies dengan lebar (1-3 mm), terkadang panjang (10-18 cm), daun linier: contohnya Halodule pinifolia, H. uninervis.
  5. Spesies dengan bentuk daun pendek elips, lanceolate oval atau linier sering membentuk understory pada asosiasi campuran : contohnya Halophila ovalis, H. ovata, H. spinulosa, H. decipiens.

Studi musiman kuantitatif yang terperinci (jangka panjang) untuk epifit lamun tidak tersedia di Indonesia. Bagaimanapun, beberapa studi dapat mendemonstrasikan  bahwa produksi primer dalam porsi yang signifikan di Padang Lamun ditujukan bagi sianobakteri epifit dan alga (Heijs 1985; Borowitzka et al. 1990; Tomasko dan Lapointe 1991; Klumpp et al. 1992; Pollard dan Kogure 1993). Kontribusi besar epifit bagi total produksi primer komunitas lamun hanya sebagian berkaitan dengan fakta bahwa wilayah permukaan yang ditempati oleh epifit (contohnya permukaan lamun) mencapai 20 kali dari wilayah permukaan sedimen yang ditempati oleh lamun (Couchman 1987).

Kekayaan jenis dan variasi epifit lamun bergantung pada spesies, sebagaimana kondisi lingkungan dan tipe habitat (contohnya kedalaman). Jangka hidup daun lamun sebagai faktor tambahan yang menentukan keragaman dan biomasa komunitas epifit (Borowitzka dan Lethbridge 1989), karena tingkat turnover daun antara spesies lamun sangat bervariasi menurut proses metabolik dasar tiap spesies, sebagaimana  intensitas merumput herbivor. Di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, komunitas alga epifit pada daun lamun terdiri dari 18 spesies, dimana hanya sembilan spesies epifit yang ditemukan di batang (Verheij dan Erftemeijer 1993). Di Filipina, Enhalus acoroides mendukung sejumlah besar epifit (Tiquio dan Fortes 1994).  Pada komunitas lamun monospesifik (Cymodocea rotundata, C. serrulata, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis) di Papua Nugini, alga epifit telah menunjukkan kontribusi sebesar 24% dari total produksi biomasa di bawah permukaan, dan 44% dari produksi primer di bawah permukaan (Heijs 1985). Epifit yang paling penting sebanyak 55 spesies , umum untuk semua empat spesies lamun dimana alga koralin kerak (contohnya Fosliella farinosa, F. lejolisii, Melobsia membranacea). Pada studi yang sama di Fiji, Pollard dan Kogure (1993) menemukan bahwa komponen epifit pada tunas Syringodium isoetifolium terhitung 22%-65% dari total produksi primer.  Alga epibentik berada pada lapisan permukaan sedimen lamun juga merupakan komponen penting komunitas lamun. Pollard dan Kogure (1993) melaporkan bahwa komunitas alga epibentik terhitung lebih dari 25% dari produktifitas total lamun.

Sebagai tambahan signifikan pada produksi karbon organik, sisa dari epifit calcareous (contohnya crustose coralline algae; Corallinaceae) merupakan sumber penting bagi CaCO3. Walker dan Woelkerling (1993) memperkirakan bahwa alga koralin merah pada daun dan batang Amphibolis antartica (Teluk Shark, Australia Barat) terhitung CaCO3 sejumlah 200 ton.km-2. Alga koralin kerak diperhitungkan sebagai kelompok pionir dengan pertumbuhan serta kematangan seksual yang cepat (Borowitzka dan Lethbridge 1989).

Komunitas epifitik dan epibentik merupakan komponen turunan dari lingkungan tiga dimensi lamun dengan menyediakan sumber makanan bagi sejumlah invertebrata serta vertebrata perumput.  Klumpp et al. (1992) menunjukkan bahwa pada terminologi nilai nutrisi, komunitas epifit jauh lebih utama daripada lamun (rasio C:N epifit adalah 9:18; rasio C:N lamun adalah 17:30). Biomasa besar epifit lamun ini sangat menambahkan bagi keseluruhan nilai nutrisional tumbuhan.  Meskipun demikian, Birch (1975) membandingkan padang lamun tropis dengan padang rumput miskin nutrisi.  Faktanya telah menjadi pandangan populer bahwa hanya sedikit hewan merumput yang memanfaatkan lamun secara langsung, mereka adalah dugong (Dugong dugon) dan penyu (Chelonia mydas) (Thayer et al. 1984). Untuk menghilangkan dugaan, McRoy dan Helfferich (1980) menyusun daftar 154 spesies yang langsung mengkonsumsi lamun, dan mencatat bahwa perumputan pada lamun hidup lebih umum terjadi di daerah tropis.  Pada pandangan terdahulu, mengingat kelimpahan konsumen lamun rendah, ditujukan pada fakta bahwa lamun terutama terdiri dari material keras,seperti selulosa (Mann 1988), dan nitrogen yang sangat rendah (Koike et al. 1987). Baik penyu maupun dugong telah sangat mengembangkan pencernaan sehingga dapat mengambil sebanyak mungkin nutrisi dari lamun (Lipkin 1975; Bjorndal 1980; Garnet et al. 1985). Konsumen lamun juga menunjukkan preferensi pada bagian tertentu dari lamun untuk memaksimalkan penyerapan nutrisi (Bjorndal 1980; Ogden 1980). Pentingnya nutrisi bagi komunitas epifit lamun untuk diet hewan perumput ini belum banyak diketahui (Borowitzka dan Lethbridge 1989).

Pada area yang diamati ke pemasukan nutrien yang lebih tinggi, alga epifitik meningkatkan biomasa secara substansial bagi kerusakan lamun.  Epifit lamun faktanya sangat berguna sebagai indikator kesehatan lamun.  Tomasko dan Lapointe (1991) telah menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi nutrien pada kolom air akan meningkatkan biomasa epifitik dan menurunkan tingkat pertumbuhan rhizoma secara substansial, yang merupakan akibat dari rendahnya densitas daun sehingga menurunkan produktifitas primer lamun secara keseluruhan (Tomasko dan Lapointe1991).  Eutrofikasi di perairan pantai menjadi perhatian serius bagi kesehatan lamun, khususnya di wilayah Sanur, Bali, dimana banyak hotel yang dapat secara langsung menghentikan aliran nutrien ke terumbu karang. Rendahnya subsidi nutrien dapat meningkatkan serta mempertahankan tingkat produksi primer tanpa ada efek merusak keseluruhan komunitas, riset eksperimen sebagai pedomen untuk meningkatkan kualitas air dirasa belum cukup.

2.3. Fauna. 

Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara disana. Spesies yang sementara hidup di lamun biasanya adalah juvenil dari sejumlah organisme yang mencari makanan serta perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidup mereka, atau mereka mungkin hanya pengunjung yang datang ke padang lamun setiap hari untuk mencari makan. Banyak spesies epibentik  baik yang tinggal menetap maupun tinggal sementara yang bernilai ekonomis, udang dan udang-udangan adalah yang bernilai ekonomis paling tinggi. Sebagai penjelas, dan bukan karena alasan ekologi maupun biologi tertentu, ada empat kelompok besar fauna yang diketahui : 1) Infauna (hewan yang hidup didalam sedimen); 2) Fauna Motil (fauna motil berasosiasi dengan lapisan permukaan sedimen; 3) Epifauna Sesil (organisme yang menempel pada bagian lamun); dan Fauna Epibentik Fauna (fauna yang berukuran besar dan bergerak diantara lamun) (Howard et al. 1989).

Asosiasi fauna dengan lamun merupakan salah satu kajian yang paling menarik serta mudah untuk diamati oleh para peneliti Indonesia. Dengan sedikitnya 30.000 km2 padang lamun menyebar diseluruh kepulauan, dari Pulau Weh di Aceh sampai peairan pantai Merauke, Irian Jaya, merupakan riset potensial yang tidak terukur.  Walaupun begitu, aturan-aturan dalam penelitian penting untuk diperhatikan untuk menghindarkan “kesembronoan” yang banyak terjadi pada riset sekarang ini.  Studi multidisiplin tentang ekosistem lamun yang baru dan menarik disepanjang pesisir Selatan Lombok merupakan langkah baru menuju arah yang benar.  Studi tentang asosiasi fauna di lamun baru-baru ini memfokuskan pada penetapan daftar spesies, pola keragaman, memperoleh informasi dasar parameter ekologi seperti kelimpahan dan biomasa dari asosiasi lamun berbagai taksa, dan trophodynamics. Dengan beberapa pengecualian (Suhartati 1994; Susetiono 1994), studi tentang asosiasi fauna di lamun yang dihadapkan dengan makro-infauna, epifauna motil dan fauna epibentik (Aswandy dan Hutomo 1988; Kiswara et al. 1991, 1992; Aswandy dan Kiswara 1992a; Mudjiono et al. 1992; Aziz 1994; Aziz dan Sugiarto 1994; Hutomo dan Parino 1994; Moosa dan Aswandy 1994; Mudjiono dan Sudjoko 1994; Pristiwady 1994).

2.4. Meiofauna. 

Susetiono (1994) melaporkan pada asosiasi fauna dengan Padang Lamun Enhalus acoroides monospesifik di pesisir Selatan Lombok. Infauna sedimen terdiri dari Nematoda, Foraminifera, Copepoda, Ostracoda, Turbelaria dan Polychaeta. Tingginya kelimpahan Nematoda (seperti indeks rasio kelimpahan Nematoda:Copepoda) mengindikasikan kelimpahan nutrien yang sering berasosiasi dengan land runoff. Meiofauna yang muncul secara aktif adalah Copepoda, Nematoda, Amphipoda, Cumacea, dan Ostracoda. Tingkat analisis umum-atau spesies-belum dilakukan sedemikian jauh. Berdasarkanpada informasi yang tersedia dari Teluk Kuta, Susetiono (1994) mengkonstruksikan jaring makanan sederhana pada Padang Lamun Enhalus acoroides

Foraminifera bentik merupakan komponen penting pada komunitas lamun, tetapi hanya mendapatkan  sedikit perhatian (Suhartati 1994).  Di Kepulauan Seribu patch reef kompleks, padang lamun melimpah dan sering didominasi oleh asosiasi Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii (Azkab 1991). Foraminifera bentik pada kedua asosiasi spesies ini didominasi oleh subordo Miliolina dan Rotaliina (Suhartati 1994).  Milionid berkarakteristik lembut, test porselin yang mengandung kristal kalsit, sementara Rotaliinid seperti kaca, test berdinding ganda yang mengandung lapisan tipis kalsit hialin radial. Rotaniid yang paling melimpah adalah Ammonia beccarii, A. umbonata, Calcarina calcar, Elphidium advenum, E. crispum, E. craticulatum dan Rosalina bradyi. Genus Ammonia diketahui sebagai  kelompok euryhalin, umum terdapat di lingkungan perairan dangkal tropis. Keberadaan Calcarina calcar (Famili Calcarinidae) mengindikasikan habitat terumbu karang, dimana tidak mengejutkan, karena studi padang lamun berada pada habitat terumbu karang.  Kelimpahan Elphidium spp. (Famili Elphidiidae) menarik untuk diamati, karena sifat euryhalinnya, spesies perairan dangkal sangat toleran dengan salinitas rendah, dan dapat ditemukan sampai ke estuari (Lee et al. 1985). Milionid diwakili oleh Adolesina semistriata, Miliolinella sublineata, Quinqueloculina granulocostata, Q. parkery, Q. sp., Spiroloculina communis, Spirolina cilindricea dan Triloculina tricarinata. Kedua genera, Quinqueloculina dan Triloculina (Famili Miliolidae), merupakan ciri dari perairan dangkal tropis.

2.5. Krustase. 

Krustasea yang berasosiasi dengan lamun merupakan komponen penting dari jaring makanan di lamun.  Bentuk krustase infaunal maupun epifunal berhubungan erat dengan produsen primer dan berada pada tingkatan trofik yang lebih tinggi, karena selama masa juvenil dan dewasa mereka merupakan sumber makanan utama bagi berbagai ikan dan invertebrata yang berasosiasi dengan lamun.  Studi analisis gut terbaru dari ikan yang berasosiasi dengan lamun di pesisir selatan Lombok (Pristiwadi 1994), mendemonstrasikan bahwa krustase merupakan sumber makanan dominan.

Bagaimanapun, Kikuchi (1980) menunjukkan bahwa pada ekosistem lamun subtropis, pengkonsumsian lamun oleh invertebrata agak jarang, dan detrivor mungkin mendominasi kebiasaan makan krustase yang berasosiasi dengan lamun. Pada banyak wilayah subtropis kepiting-kepitingan dan isopoda merupakan krustase perumput yang dominan.  Nienhuis dan Ierland (1978) menemukan bahwa isopod mengkonsumsi lebih dari 75% tumbuhan di Padang Lamun Eropa.  Sampai sekarang, studi yang sama dari Indonesia dirasa belum cukup. Peran Amphipoda gamarid bagi jaring makanan ekosistem lamun belum dapat diperkirakan secara lengkap.  Ada beberapa keraguan apakah Amphipoda benar-benar memakan lamun di alam, walaupun telah dibuktikan dengan eksperimen di laboratorium (Kirkman 1978).  Kelimpahan epifit dengan nilai nutrisi utama menawarkan krustase kolam sebagai nutrisi alternatif untuk dipilih.

Aswandy dan Hutomo (1988) mencatat 28 spesies krustase di Padang Lamun Teluk Banten.  Dua spesies Amphipoda, bernama Apseudeus chilkensis dan Eriopisa elongata, adalah krustase yang paling melimpah pada padang lamun Enhalus acoroides di Teluk Grenyang.  Sampai baru-baru ini sedikit penelitian kuantitatif telah dilakukan pada krustase yang berasosiasi dengan lamun. Moosa dan Aswandy (1994) telah menyusun  daftar spesies lengkap untuk padang lamun di Kuta dan Teluk Gerupuk di pesisir selatan Lombok. Daftar 70 spesies krustase disusun dari kedua teluk, bagaimanapun, banyak spesimen yang rupanya diambil dari wilayah batuan koral berbatasan dengan padang lamun, sehingga diragukan asosiasi mereka dengan lamun. Dari 70 spesies krustase tersebut, hanya satu jenis udang hipolitid, Tozeuma sp., memiliki adaptasi morfologi khusus sehingga dapat tinggal di padang lamun. Anggota subtropik dari genus ini, Tozeuma carolinense (Caridea), merupakan penghuni umum dari padang lamun disepanjang pesisir timur Amerika serikat, dan berwarna hijau (Barnes 1980). Stomatopoda juga ditemukan pada padang lamun. Kelompok predator ini merupakan kelompok yang relatif beragam dan terdistribusi luas, tetapi nampaknya hanya spesies Pseudosquilla ciliata yang benar-benar berasosiasi dengan lamun (Moosa dan Aswandy 1994). Bagaimanapun, stomatopoda umumnya berbatasan dengan rataan terumbu intertidal. Diantara stomatopoda yang berasosiasi dengan karang yang paling beragam warnanya adalah Odontodactylus scyllaus (Squillidae), merupakan predator aktif moluska. Predator rakus ini terdistribusi luas dan hidup disejumlah habitat terumbu, pada celah-celah terumbu.  Bagaimanapun, pada terumbu karang dimana lamun tumbuh disepanjang batas rataan terumbu, O. scyllarus diketahui sebagi makanan sampai batas luar dari habitat ini, nampaknya pada pencarian moluska yang melimpah di padang lamun (T. Tomascik, pers. Obs ; Bunkaen 1993).

Krustase predator yang berasosiasi dengan padang lamun umumnya berada pada kondisi alami (tidak dieksploitasi oleh penduduk lokal).  Diantara yang paling umum adalah kepiting kotak, Famili Calappidae.  Kepiting kotak biasanya meliang dibawah permukaan pasir, dan aktif memakan gastropoda.  Capit kanan mereka digunakan khusus untuk menghancurkan cangkang gastropoda.  Capit penghancur ini memiliki tubercle besar di dasar jari yang dapat digerakkan dan digunakan untuk membantu menghancurkan cangkang gastropoda menjadi berkeping-keping. Kepiting kotak sangat umum di seluruh kepulauan dan ada tiga spesies tercatat berada pada padang lamun di Lombok Selatan (Calappa hepatica, C. calappa dan Matuta banksii).  Rajungan dari Famili Portunidae melimpah di padang lamun, dan tercatat berada di Lombok (Moosa dan Aswandy 1994).

Padang lamun juga merupakan habitat kritis bagi juvenil Portunus pelagicus, spesies yang bernilai ekonomis.  Famili ini (Portunidae), memiliki lima pasang kaki yang beradaptasi untuk berenang, hal ini unik karena sebagian besar kepiting tidak dapat berenang.  Kaki beradaptasi sehingga dapat berperan seperti ‘baling-baling’.  Kepiting ini menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan mengubur diri dibawah permukaan substrat, dimana mereka mengintai untuk menyergap ikan atau invertebrata yang lewat; tergolong spesies yang sangat agresif. Bagaimanapun, banyak spesies ikan yang dimangsa oleh mereka. Jantan lebih besar daripada betina. Kepiting portunid mempunyai kebiasaan kawin unik, dimana mereka juga berbagi dengan Cacridae.  Selama masa kawin, jantan membawa betina dibawah mereka, dengan karapas betina menempel pada sternum jantan.  Segala aktifitas dilakukan bersama, bergerak, berjalan dan berenang.  Saat betina siap untuk molt (berganti kulit) jantan melepas betina dan kopulasi terjadi sesaat setelahnya.

Padang lamun diketahui merupakan habitat kritis bagi udang penaeid komersial penting (seperti Penaeus esculentus dan P. semisulcatus) (Bell dan Pollard 1989; Coles et al. 1993; Mellors dan Marsh 1993; Watson et al. 1993) dan lobster berduri (Panulirus ornatus). (Bell dan Pollard 1989; Poiner et al. 1989), yang tergantung pada lamun sebagai tempat mencari makan serta berlindung selam masa postlarva dan juvenil dari siklus hidup mereka.  Pada eksperimen di laboratorium, Hill dan Wassenberg (1993) menemukan bahwa Penaeus esculentus menghabiskan sekitar 80% dari waktu tidak berenang mereka di lamun.  Pada siang hari P. esculentus dewasa (individu besar, diameter karapas 15 cm) ditemukan terkubur pada substrat, dimana individu yang lebih kecil ditemukan terkubur, berada di dasar atau menempel pada lamun. Hasil yang sama didapatkan umtuk P. semisulcatus, sehingga mendukung sejumlah pengamatan di lapang.

Asosiasi sejumlah udang penaeid dengan padang lamun selama periode tertentu dari siklus hidup mereka diperlihatkan dengan baik. Pertanyaan yang tersisa relative tidak terjawab, komponen apa dari ekosistem yang memberikan kontribusi besar bagi keperluan energi penaeid.  Apakah penaeid memanfaatkan habitat lamun sebagai tempat mencari makan atau perlindungan, atau keduanya Wassenberg dan Hill (1987) melaporkan bahwa Penaeus esculentus yang berisi gut dikoleksi dari padang lamun di Teluk Moreton, Australia, terdapat benih Zostera capricornis sebagai lamun yang mendominasi.  Pada penelitian lain, Kitting et al. (1984) menggunakan rasio isotop 13C/12C stabil untuk mengetahui apakah P. aztecus dan P. duorarum tidak memperoleh jumlah karbon organik yang signifikan dari lamun.  Udang panaeid juvenil lebih cenderung memakan lamun daripada udang panaeid dewasa (Hill et al. 1990)

2.6. Moluska. 

Moluska adalah salah satu kelompok makroinvertebrata yang paling banyak diketahui berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang paling banyak dieksploitasi.  Sejumlah studi tentang moluska di daerah subtropik telah menunjukkan bahwa moluska merupakan komponen yang paling penting bagi ekosistem lamun, baik pada hubungannya dengan biomasa dan perannya pada aliran energi pada sistem lamun (Watson et al. 1984).  Telah didemonstrasikan bahwa 20% sampai 60% biomasa epifit pada padang lamun di Filipina dimanfaatkan oleh komunitas epifauna yang didominasi oleh gastropoda (Klumpp et al. 1992).  Bagaimanapun, peranan mereka pada ekosistem almun di Indonesia relative belum diketahui. Moluska utama pada padang lamun subtropis adalah detrivor dengan sangat sedikit yang langsung memakan lamun (Kikuchi 1980).  Gastropoda cenderung memakan perifiton (Klumpp et al. 1989). Mudjiono et al. (1992) mencatat 15 spesies moluska (11 gastropoda dan 4 bivalvia) dari padang lamun di Teluk Banten, Barat Daya Laut Jawa.  Fauna moluska yang terdapat dalam jumlah sedikit dikumpulkan dari lima lokasi asosiasi yang berbeda, berkisar dari asosiasi Enhalus acoroides monospesifik sampai asosiasi yang terdiri dari tiga spesies, yaitu E. acoroides, Cymodocea serrulata dan Syringodium isoetifolium, sebagaimana asosiasi tujuh spesies yang terdiri dari Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, C. rotundata, Thalassia hemprichii, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Halophila ovalis. Jumlah keseluruhan, tujuh famili gastropoda (Trochidae, Cerithiidae, Strombidae, Muricidae, Columbellidae, Nassariidae dan Fasciolariidae) serta tiga famili bivalvia (Arcidae, Veneridae dan Mactridae) ditemukan pada asosiasi tersebut (Mudjiono et al.1992). Sayangnya, tidak ada arti ekologis yang dapat dipelajari dari catatan kelimpahan, karena seluruh teluk mengalami overeksploitasi, dan tiga lokasi pengamatan berada dalam jarak dekat pada desa yang besar di Pulau Panjang. Hanya dua spesies gastropoda yang umum ditemukan pada semua lokasi, yaitu Pyrene versicolor dan Cerithium tenellum.

Tulisan yang ditampilkan pada data yang ditulis oleh Mudjiono et.al (1992) menunjukkan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya lamun (e.g hanya 4 juvenil Trochus niloticus, dengan diameter 3-5 mm yang ditemukan) dan efek dari polusi (endapan) dari pada pola ekologi.

Pada kajian yang sama yang dilakukan di Teluk Kotania, Seram Barat, Wouthuyzen dan Sapulete (1994) mencatat 24 spesies dari Pulau Osi, 6 spesies dari Desa Pelita Jaya dan 22 spesies dari Desa Kotania. Tipe dari lamunnya tidak dijelaskan, bagaimanapun, mereka mencatat ada 7 spesies  moluska yang sangat melimpah (i.e., Anadara antiquata, Pinna nobilis, P.muricata dan Atrina vexillum) yang sekarang relatif jarang, mengidikasikan eksploitasi yang berlebihan dari sumberdaya tersebut.

Pengetahuan yang lebih baik terhadap nilai potenial ekonomi sumberdaya lamun diperoleh dari kajian yang baru-baru ini dilakukan oleh Mudjiono dan Sudjoko (1994), dilakukan pada 3 teluk di Pantai Selatan Lombok. Jumlah total moluska yang ditemukan di padang lamun ada 70 spesies, banyak diantaranya memiliki nilai ekonomi. Spesies gastropoda yang ditemukan adalah Pyrene versicolor, Strombus labiatus, S. luhuanus dan Cymbiola vespertilio. Sedangkan bivalvia yang ditemukan adalah Anadara scapha, Trachy cardium flavum, T. subrugosum, Peryglypta crispate, Mactra spp. Dan Pinna bicolor (Mudjiono dan Sudjoko, 1994). Ditambahkan lagi, sejumlah spesies Conus yang cangkangnya memiliki nilai ekonomi, juga di temukan.  

2.7. Echinodermata.

Hewan Echinodermata adalah komponen komunitas bentik di lamun yang lebih menarik dan lebih memiliki nilai ekonomi. Lima kelas echinodermata ditemukan pada ekosistem lamun di Indonesia. Dibawah ini urutan Echinodermata secara ekonomi : 1. Holothuroidea (timun laut atau teripang); 2. Echinoidea (bulu babi); 3. Asteroidea (Bintang laut); 4. Ophiuroidea (Bintang Laut Ular); 5. Crinoidea . Dari lima kelas yang ada, Echinoidea adalah kelompok yang paling penting di ekosistem lamun karibia, karena mereka adalah kelompok pemakan yang utama (Lawrance 1975, Greenway 1976). Echinodermata besar lain seperti Protoreaster, Peintaceraster dan Culcita spp. cenderung pengurai dan pemakan segala dan tidak memakan lamun secara langsung. Di Indonesia, sepanjang Indo-Pasifik, Echinoids, juga ditemukan di padang lamun (Tripneustes gratilla, Diadema setosum dan yang lainnya), agak jarang dilingkungan terumbu karang.  Sedangkan pada rataan terumbu karang di daerah intertidal adalah bintang laut bertanduk Protoreaster nodosus dan Linckia laevigata. P. nodosus secara frekuensi sangat melimpah di area yang populasi timun lautnya sudah di eksploitasi secara berlebihan (Salabanka, Komodo). Bagaimanapun, di tempat itu beberapa Echinoid sangat melimpah dan kesatuan bentuknya besar. Diadema setosum, khususnya, rata-rata pada siang hari di perairan terumbu dangkal, mereka mencari tempat perlindungan pada koloni karang besar, jika mereka ada. Kesatuan ini tidak aktif pada siang hari, tetapi pada malam hari menyebar keliling untuk mencari makan. Di Karibia, Diadema antillarum seperti diketahui senang memakan Thallasia testudinum dan Syringodium filiforme, dan membuat “halos” diantara dasar terumbu karang dan padang lamun yang jauh (Ogden et al., 1973). Bagaimanapun D.setosum sudah di golongkan sebagai pemakan segala (pemakan alga/pemakan detritus)(Guib, 1981), karena itu peran mereka pada umumnya terhadap lamun tropis tetap tidak jelas.

Echinodermata pada umumnya, dengan pengecualian beberapa holothuroidea, makan pada malam hari. Bagaimanapun, Klummp et al. (1993) dilaporkan bahwa Tripneustes gratilla dan Salmacis sphaeroides makan secara terus menerus siang dan malam, tanpa bukti yang berkala. Mereka mencari sampai ke dasar substrat, memakan alga, serasah lamun dan daun lamun yang masih hidup (Klumpp et al., 1993). Tripneustes gratilla terlihat lebih menyukai menempel pada daun Thalassi hemprichii dan Syringodium isoetifolium yang kurang luas permukaan daunnya. Persentasi tertinggi aktivitas memakan T.gratilla (77%-89%) adalah memakan daun lamun  yang masih hidup (Klumpp et al., 1993). Pengaruh dari aktivitas memakan T.gratilla terhadap lamun adalah berubahnya ruang tumbuh secara berkala sejak Bulu Babi melimpah dan berubahnya ukuran setiap musim. Dasar cara memakan Bulu Babi adalah fungsi dari kepadatan dan ukuran tubuhnya (Klumpp et al., 1993). Sebagai contoh Mukai dan Nojima (1985) melaporkan bahwa T. gratilla di Papua New Guinea hanya memakan 1,4% dari produksi lamun pada kepadatan 0,1 individu per m2. Klumpp et al (1993) melaporkan bahwa antara bulan Maret-Juli T.gratilla mengkonsumsi 1%-5% dari produksi lamun, selama bulan November-Januari konsumsi Bulu Babi tersebut meningkat  sampai lebih dari 50% dari produksi lamun. Mereka menyimpulkan bahwa pada setiap tahun, T. gratilla mengkonsumsi sekitar 24% dari total produksi lamun, jadi sebagian besar sisa dari produksi lamun rata-rata tidak dimakan. Akhir dari partikel besar kelompok organik karbon tidak diketahui, tetapi sisa yang lainnya di ekspor atau ditahan (disimpan) dalam sistem, di busukkan atau dimineralisasikan kembali. Seberapa banyak partikel bahan organik yang diekspor atau ditahan ke sistem sampai sekarang masih diperdebatkan. Nienhuis et al (1989) percaya bahwa kurang dari 10% dari produksi bersih di ekspor dari padang lamun,  lalu ditahan dalam sistem.

Dalam studi yang baru-baru ini dilakukan, Azis dan Soegiharto (1994) mengambil 45 spesies Echinodermata di padang lamun yang berlokasi  di Teluk Kuta dan Gerupuk Pantai Selatan Lombok. Semua kelompok besar ada, yaitu Asteroidea, Echinoidea, Holothuroidea, Ophiuroidea, dan  Crinoidea. Mereka mencatat bahwa spesies Holothuroidea memiliki beberapa nilai penting (Holothuria dan Actynopyga) seperti halnya Bulu Babi, T.gratilla yang kurang melimpah. Persediaan yang menipis pada populasi Echinodermata juga dilaporkan dari Teluk Kotania (Pulau Seram Barat, Maluku) dimana  dahulu padang lamun menyokong kelimpahan Holothuroids yang memiliki nilai ekonomi penting. Pada tahun 1983, padang lamun yang lua di Teluk Kotania menyokong kepadatan populasi yang tinggi (1-2 individu per m2) dari 9 spesies Timun Laut yang memiliki nilai ekonomi penting, spesies tersebut adalah Bohadschia marmorata, B. argus, Holothuria (Metriatyla) scabra, H.(Microthele) nobilis, Thelenota ananas, dan Actinopyga miliaris. Pada tahun 1993, inventarisasi pada daerah yang sama, hanya 3 Timun Laut  yang ditemukan dalam jarak 500 m (Wouthuyzen dan Sapulete, 1994). Rata-rata ukuran tubuh Timun Laut menurun dari 22 cm di Tahun 1983 sampai kurang dari 15 cm di Tahun 1993.

Penurunan terhadap persediaan dan ukuran Timun Laut terjadi karena pengambilan oleh penduduk setempat secara intensif untuk menyuplai pasar teripang yang menguntungkan. Spesies Echinodermata lainnya yang di eksploitasi secar berlebihan yang populasinya menurun secara drastic dalam kurun waktu 10 tahun ini adalah Bulu Babi yang dapat dimakan, yaitu T.gratilla.

2.8. Ikan Di Lamun.

Di sepanjang jarak distribusinya, ekosistem lamun, baik yang luas ataupun sempit adalah habitat yang penting bagi bermacam-macam spesies ikan (Kikuchi, 1980; Pollard 1984; Bell dan Pollard 1989). Pada resensi, asosiasi ikan di lamun, mereka Bell dan Pollard (1989) mengidentifikasi 7 karakteristik utama kumpulan ikan yang berasosiasi dengan lamun. Berdasarkan Bell dan Pollard (1989) dengan beberapa perubahan, karakteristik-karakteristiknya adalah :

  1. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan di padang lamun biasanya lebih tinggi daripada yang berdekatan dengan substrat kosong.
  2. Lamanya asosiasi ikan-lamun berbeda-beda diantara spesies dan tingkatan siklus hidup.
  3. Sebagian besar asosiasi ikan dengan padang lamun didapatkan dari plankton, jadi padang lamun adalah daerah asuhan untuk bnyak spesies yang mempunyai nilai ekonomi penting.
  4. Zooplankton dan epifauna krustasean adalah makanan utama ikan yang berasosiasi dengan lamun, dengan tumbuhan, pengurai dan komponen infauna dari jarring-jaring makanan di lamun yang dimanfaatkan oleh ikan
  5. Perbedaan yang jelas (pembagian sumberdaya) pada komposisi spesies terjadi dibanyak padang lamun.
  6. Hubungan yang kuat terjadi antara padang lamun dan habitat yang berbatasan, kelimpahan relatif dan komposisi spesies ikan di padang lamun menjadi tergantung pada tipe (terumbu karang, estuaria, mangrove) dan jarak dari habitat yang terdekat, seperti pada siklus malam hari.
  7. Kumpulan ikan dari padang lamun yang berbeda seringkali berbeda juga, walaupun dua habitat itu berdekatan.

Salah satu kajian tentang asosiasi ikan dengan padang lamun di Indonesia dibuat oleh Hutomo dan Martosewojo(1977). Penelitian tersebut dilakukan pada

asosiasi padang lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides dengan banyak karang laguna kecil (Pulau Pari) di daerah Kepulauan Seribu. Total ikan yang berasosiasi dengan lamun yang diambil selama penelitian ada 78 spesies.Dari hasil tersebut didapatkan 32 famili ikan, hanya 6 kelompok (Apogonidae, Atherinidae, Labridae, Gerridae, Siganidae dan Monacanthidae) yang biasdianggap sebagi kelompok yang menetap. Hutomo dan Martosewojo (1977) membagi kumpulan ikan yang berasosiasi dengan lamun di Pulau Pari menjadi 4 kategori, yaitu :

  1. Penghuni tetap, dengan memijah dan menghabiskan sebagian besarhidupnya di padang lamun (contohnya Apogon margaritoporous).
  2. Menetap dengan menghabiskan hidupnya di padang lamun dari juvenile sampai siklus hidup dewasa, tetapi memijah di luar padang lamun (contoh : Halichoeres leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinquilineata, Gerres macrosoma, Monachantus tomentosus, M.hajam, Hemiglyphidodon plagyometopon, Synadhoides biaculeatus)
  3. Menetap hanya pada saat tahap juvenile (contoh : Siganus canaliculatus, S.virgatus, S.chrysospilos, Lethrinus spp, Scarus spp, Abudefduf spp, Monachnthus mylii, Mulloides samoensis, Pelates quadrilineatus, Upeneus tragula) dan
  4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk berlindung atau mencari makan.

Pada tahun 1977, penelitian di Pulau Pari diikuti oleh penelitian lanjutan dari kumpulan ikan yang berasosiasi dengan padang lamun di Teluk Banten, barat daya Laut Jawa. Hasil dari penelitian di Teluk Banten (Hutomo, 1985) mendukung pandangan awal yang mengatakan bahwa hanya sedikit spesies ikan yang menghuni tetap di padang lamun. Walaupun begitu, penelitian itu juga mengkonfirmasi kembali bahwa padang lamun berperan sebagai daerah asuhan untuk banyaj spesies ikan yang mempunyai nilai ekonomi penting. Selanjutnya, komposisi spesies kumpulan ikan yang terlihat dipengaruhi oleh kumpulan spesies komunitas yang terdekat. Hutomo (1985) melaporkan bahwa padang lamun dengan kepadatan tertinggi menyokong tingginya kepadatan ikan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa padang lamun E.acoroides, lebih menyokong tingginya kepadatan ikan daripada Thalassia hemprichii, yang mempunyai daun lebih pendek. Rollon dan Fortes (1991) memperoleh hasil yang sama, bahwa tingginya biomassa lamun berhubungan dengan keanekaragaman ikan (sejumlah besar ikan dan komposisi spesies). Mereka juga menulis bahwa E.acoroides dan Thalassia hemprichii adalah spesies lamun yang paling dominan. Dalam perbandingan, padang lamun campuran (keanekaragaman tinggi) didominasi oleh lamun yang berdaun pendek, kurang menyokong kepadatan ikan dan keragaman spesies. Rollon dan Fortes (1991) ,mengatakan bahwa peran padang lamun yang utama adalah sebagai tempat perlindungan dimana ikan dapat menghindari predasi. Hasil yang sama juga diperoleh oleh Sudara et al (1992), mengkonfirmasi hipotesis awal bahwa padang lamun dengan struktur yang kompleks (Tumbuhan besar dengan area yang luas) dan kepadatan lamun yang tinggi akan menyokong tingginya kepadatan spesies ikan dan biomassanya (Heck dan Ort, 1980).

Daftar spesies tetap dari spesies ikan yang berasosiasi dengan lamun di Indonesia ada 360, daftar tersebut berdasarkan studi yang dilakukan dari tahun 1977-1991 (Hutomo dan Martosewojo, 1977; Hutomo, 1985; Kiswara, 1991). Studi tersebut menulis bahwa ada perbedaan-perbedaan yang nyata dari ikan-ikan yang berasosiasi dengan lamun di setiap kepulauan yang berbeda. Ddari 360 spesies yang berasosiasi dengan padang lamun, 78 diantaranya diambil di Kepulauan seribu, 165 spesies diambil dari Teluk Banten dan 205 spesies diambil dari Pulau Seram Barat (Hutomo dan Martosewojo, 1977; Hutomo, 1985; Peristiwadi, 1991). Perbedaan yang utama karena studi dilakukan pada ekosistem yang berbeda dengan pengaruh pengambilan sampel yang berbeda. Bagaimanapun juga, banyak spesies konomi penting seperti Siganids, secara bersama ke semua pantai padang lamun (Teluk Banten, Teluk Miskam, Teluk Kotania, Teluk Kuta, dll). Hal tersebut mengindikasikan bahwa Siganids bergantung pada padang lamun untuk makan dan berlindung. Lepiten (1994) menulis bahwa selama makan ikan Kelinci, Siganus canaliculatus, menyalurkan sedikit produksi primer ke dalam rantai makanan lamun, bagian yang signifikan dari memakan lamun oleh populai siganids adalah langsung kedalam rantai makanan detritus.

Peristiwadi (1994) menggunakan anlisis Fish-gut untuk menentukan makanan utama bagi spesies ikan di lamun yang paling dominan. Dasar dari analisis informasi “gut” Peristiwadi (1994 a)mengusukan jarin makanan yang mungkin berhubungan dari organisme benthic sebagai produsen primer tertinggi sampai predator utama di padang lamun. Hewan crustacea lamun  adalah makanan yang paling dominant di padang lamun Lombok Selatan, yang mana menaruh produsen primer benthic ke tropic level tertinggi di rantai makanan.  

Perbandingan dari Kelompok Ikan. Ada beberapa studi di Indonesia yang dapat digunakan dalam bingkai kerja ekologi komparatif, bagaimanapun juga, beberapa dasar pembandingan kualitatif adalah tepat. Penelitian yang berbeda terhadap struktur komunitas ikan yang berasosiasi dengan lamun pada tempat yang berbeda berhubungan dengan struktur komunitas lamun dan habitat terdekat juga tipe substrat dan kondisi lingkungan. Penelitian di Kepulauan Spermonde, Sulsel, menyatakan bahwa 49 spesies ikan berasosiasi dengan 2 habitat lamun yang berbeda (Gusung Talang, padang lamun tepi pantai dengan substrat terigenous dan Barang Lompo, lamun di rataan terumbu karang) (Erftemeijer dan Allen, 1993). Jumlah total spesies ikan di Gusung Talang dan Barang Lompo sama, yaitu 27 dan 26 spesies berturut-turut, dimana dua lokasi tersebut tidak berkaitan dengan spesies lain. Ikan-ikan utama yang ada di padang lamun Barang Lompo adalah spesies ikan dengan karakteristik lingkungan rataan terumbu karang. Meskipun demikian, 3 spesies di Barang Lompo dianggap sebagai tipe habitat lamun, nam spesiesnya adalah Acreichtys tomentosus, Novaculichtys macrolepidotus, dan Centrogenys vaigiensis. Di Gusung Talang, spesies ikan padang lamunnya kebanyakan didominasi oleh kelompok tipe estuaria seperti engraulids, clupeids dan siganids, spesies tersebut memiliki nilai ekonomi penting. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Hutomo dan Parino (1994) menunjukkan bahwa di Pantai Selatan Lombok 85 spesies ikan berasosiasi dengan padang lamun vegetasi campuran. Ikan yang ada adalah Syngnathoides biaculetus, Novaculichtys sp., Acreichtys sp., dan Centrogenys vaigiensis. Sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomi penting seperti siganids, lethrinids, carangids dan lutjanids diambil di semua padang lamun vegetasi campuran.

Terumbu karang yang berasosiasi dengan padang lamun di Kepulauan Seribu mendukung 9 spesies ikan komersial. Di Teluk Banten, yang lebih kecil dari Pulau Seribu, 12 spesies ikan padang lamun komersial mendukung perikanan setempat. Padang lamun di Teluk Banten tidak bergantung pada terumbu karang, tetapi dulunya kebanyakan berasosiasi dengan mangrove yang lebih luas berubah menjadi kolam ikan dan lahan pertanian. Kebanyakan ikan utama yang diambil di padang lamun masih juvenile dan setengah dewasa. Di Teluk Kotania pantai Barat Pulau Seram, Peristiwadi (1994) mengambil 8-9 spesies ikan komersial dari padang lamun yang berasosiasi dengan terumbu karang pada Pulau Osi dan Marsegu. Spesies ikan lamun ada sekitar 33,2% 45,4% dari total spesies yang diambil dari 2 Pulau tersebut berturut-turut. Siganids adalah spesies yang lebih mendominasi, mewakili sekitar 5% dari total individu yang diambil.

Daftar Pustaka

Hartog, C.den.1970. Seagrass of the world. North-Holland Publ.Co.,Amsterdam Kikuchi dan J.M. Peres. 1977. Consumer ecology of seagrass beds, pp. 147-193. In P. McRoy and C.Helferich (eds).   Seagrass ecosystem. A scientific perspective. Mar.Sci.Vol 4.Marcel Dekker Inc, New York.

Menez, E.G.,R.C. Phillips dan H.P.Calumpong. 1983. Sea Grass from the Philippines.  Smithsonian Cont. Mar. Sci. 21. Smithsonian Inst. Press, Washington.

Tomascik, T, AJ Mah, A Nontji, and MK Moosa. 1997. The Ecology of Indonesian Seas Part Two. Periplus Edition.